Powered By Blogger

Jumat, 27 Juli 2012

SYMPHYOLYSIS



BAB I
PENDAHULUAN


1.1  LATAR BELAKANG
Kehamilan merupakan hal yang fisiologis dimana tubuh dapat beradaptasi terhadap reaksi – reaksi yang terjadi dalam kehamilan tersebut. Selama kehamilan terdapat peningkatan hormone relaxin dan progeseron . Peningkatan hormone itu dapat berakibat merelaksasi otot dan ligamentum. Peningkatan hormone tersebut dapat menyebabkan peregangan pada simfisis pubis dimana dapat menimbulkan nyeri. Nyeri akibat peregangan tulang simfisis ini tidak boleh dianggap sepele karena nyeri ini dapat menjadi suatu keadaan yang patologis. Nyeri ini dapat menghambat mobilisasi ibu karena intensitas nyeri yang besar sehingga ibu kesulitan  bergerak, berjalan bahkan bangun dari tempat tidur.
Oleh karena alasan tersebut diatas dan untuk memenuhi tugas askeb IV Patologi Kebidanan maka penulis menyusun makalah tentang “Symphysiolysis”.


1.2 TUJUAN
·                     Tujuan Umum :
Menambah dan meningkatakan pengetahuan mahasiswa kebidanan dan sumber daya calon bidan.
·                     Tujuan Khusus:
- Mampu mendeteksi secara dini terhadap factor penyebab terjadinya symphysiolysis
- Mampu mendeteksi secara dini terhadap tanda dan gejala symphysiolysis
- Mampu memberikan penanganan sesuai dengan standart asuhan kebidanan


1.3 TINJAUAN PUSTAKA
1.3.1      Pengertian symphysiolysis
1.3.2     Etiologi
1.3.3     Insidensi
1.3.4     Komplikasi
1.3.5     Penatalaksanaan
1.3.6     Patofisiologi

TINJAUAN PUSTAKA
I. PENGERTIAN
    Symphyolysis adalah pemisahan/putusnya symphisis khususnya symphisis pubis. (Dorland,2005)
§             Symphyolysis adalah rupture simfisis. (FK UNPAD,1984)
§      Symphysiolysis adalah pemisahan simfisis pubis akibat adanya  relaksasi simfisis pubis pada saat kehamilan. (Benzion,1994)
§       Diastasis Symphysis Pubis (DSP) is the name for the problem where the pubic symphysis actually separates severely or tears. (diastasis simfisis pubis adalah nama dari masalah dimana simfisis pubis terpisah dengan keras atau robek) (http://www.plus-size-pregnancy.org/ pubicpain.htm)
§      KESIMPULAN:
  Symphyolysis
 adalah pemisahan atau pemutusan simfisis pubis baik karena adanya relaksasi simfisis pada saat kehamilan maupun karena pemisahan dengan keras atau robek (trauma).

II. ETIOLOGI
1.  Hormonal
Hormon relaksasi kehamilan dan hormon progesteron pada kehamilan cenderung menghilangkan ligamen-ligamen dari tubuh dalam persiapan kelahiran. Hormon – hormone tersebut membuat relaksasi dan melemahkan sendi – sendi panggul sehingga persendian agak teregang, biasanya ukuran bertambah 3-4 mm. Relaksasi ligamen tersebut memungkinkan tulang panggul saling bergeser satu sama lain ketika berjalan atau bergerak. Stepherd&fry,1996 menggambarkandiameter sendi yang bertambah dari ukuran non hamil 4,9mm sampai 7,1mm. Pelebaran yang nyata ini diperbesar oleh penyerapan enzimatis tulang pubis.
2.    Diastasis Symphisis Pubis
Diastasis didefinisikan sebagai pemisahan secara paksa kedua bagian yang normalnya bergabung (Anderson,1994). Definisi ini diterapkan pada pemisahan simfisis traumatic selama persalinan
dan telah dikaitkan dengan partus presipitatus, bersalin dengan alat yang sulit (ekstraksi forcep yang sulit),disproporsi sefalopelvik, kelainan panggul sebelumnya atau yang telah ada, multiparitas, persalinan yang sukar, Abduksio yang berlebihan saat melahirkan, setiap keadaan yang dapat menimbulkan tekanan mendadak yang berlebihan simfisis pubis (sendi simfisis), posisi litotomi juga dianggap sebagai penyebab karena sendi kartilaginosa diregang berlebihan atau robek.

III. INSIDENSI
     Insidensi bervariasi dari 1:250 hingga 1:30.000 persalinan. Peristiwa ini dapat terjadi selama persalinan atau dalam pertengahan kedua kehamilan.

IV.TANDA DAN GEJALA
·         Awal keluhan biasanya mendadak tetapi mungkin tidak diketahui sampai saat pasien berusaha untuk berjalan.
·         Pada waktu rupture pasien mengalami perasaan adanya robekan atau mungkin terdengar suara gemeretak.
·         Gerakan simfisis (misalnya pada waktu menggerakkan tungkai ) menyebabkan nyeri yang hebat.
·         Jika pasien masih dapat berjalan,ia akan berjalan dengan badan terhuyung-huyung.
·         Pada simfisis pubis terdapat nyeri tekan yang mencolok, sering ditemukan edema dan ecchymosis.
·         Acapkali teraba celah pada sendi symphisis.
·         Berjalan atau penekanan menyebabkan gerakan pada sendi yang terlepas itu.
·         Nyeri sewaktu berjalan atau selama pengerahan tenaga.
·         Nyeri simfisis atau nyeri tekan menjalar ke bawah pada bagian dalam paha.
·         Pasien tidak mampu bangun dari tempat tidur,karena pergerakan menimbulkan ketidaknyamanan yang hebat.
·         Apabila berusaha berjalan ibu tidak dapat memfleksikan pahanya dan berjalan dengan ekstrimitas bawahnya eversi(berjalan seperti bebek)

V. KOMPLIKASI
Komplikasi yang mungkin terjadi : perdarahan dan edema arthritis atau osteomyelitis.

VI.PENANGANAN
v  Tirah baring biasanya merupakan terapi yang adekuat untuk kebanyakan pasien.Pasien tidur di tempat tidur yang keras dan sedapat mungkin menyusui dengan miring pada salah satu sisi.Sabuk yang kuat dapat mengurangi nyeri.
v  Injeksi local Novocain dapat menolong.Pada kebanyakan kasus yang serius,pasien harus tetap di tempat tidur dan memerlukan penggunaan penopang pelvis mirip yang digunakan untuk pengobatan fraktur pelvis.
v  Kalau rupture ringan ambulasi dini diperbolehkan,kalau keadaannya lebih parah harus digunakan tongkat penolong (kruk).Pasien harus membatasi dirinya dalam penggunaan tenaga.Pasien sudah dapat dipulangkan pada satu minggu dan secara bertahap membaik dalam empat minggu.
v  Intervensi pembedahan jarang merupakan indikasi,kalau perlu dilengkapi dengan pemasangan bone grafte,baut dan kawat menyilang.

VI. PATOFISIOLOGI

Kehamilan                                                      Selama proses           
                                                                   persalinan
Progesteron                                                          


Relaksasi &       Ekstraksi      CPD   Persalinan   multi   kelainan 
Pelemahan        yang dipaksakan      yg sukar    paritas  panggul
Ligamen
                                Keadaan yang menimbulkan tekanan menda-
Tulang panggul         dak yang berlebihan pada simphisis pubis                                    
Saling bergeser
Satu sama lain
(saat berjalan/
Bergerak)
                                   Tulang rawan pada symphisis terlalu tere-
                                  Gang maksimal atau berlebihan

                                  Fraktur tulang rawan symphisis dan
                                  Jaringan ikat pembungkus tulang sobek

                                                SYMPHYSIOLYSIS
                                               
                                      Nyeri simfisis, lumbo sacral, punggung

                                              Gangguan pergerakan
         



        Berjalan(seperti bebek)   Nyeri paha    tidak mampu bangun
                                            Bagian dalam    dari Tempat tidur


ASUHAN KEBIDANAN
Pada ibu P…….. Post partum hari ke I
Dengan Symphysiolysis

Tanggal        :
Waktu         :
Tempat        :

I. PENGKAJIAN
     A. DATA SUBYEKTIF
1.     Biodata
Ras : wanita
 Scandinavia dan wanita kulit hitam memiliki resiko lebih tinggi.
2.    Keluhan utama
Ibu mengatakan nyeri pada daerah di atas kemaluan yang menjalar ke paha bagian dalam lebih – lebih saat berjalan atau pengerahan tenaga.
 Ibu tidak bisa bangun dari tempat tidur karena pergerakan menimbulkan nyeri.
3.    Riwayat Kesehatan Sekarang
Ibu mengatakan saat ini sedang menderita penyakit diabetes mellitus sehingga bayi yang dikandung besar.
4.    Riwayat kesehatan Dahulu 
Ibu mempunyai riwayat penyakit keturunan, misalnya Diabetes Melitus.
5.    Riwayat Kesehatan Keluarga
Keluarga ada yang menderita penyakit DM.
6.    Riwayat Menstruasi
7.    Riwayat Perkawinan
8.    Riwayat Obstetri
Ibu mengatakan pernah melahirkan bayi besar dengan berat badan > 4000g, memiliki anak lebih dari 1, partus lama.


9.    Riwayat Kehamilan
10. Riwayat KB
11.  Riwayat Persalinan sekarang
Ibu mengatakan telah melahirkan anaknya yang ke ….(>1) secara spontan, pada tanggal…jam… dengan BB >4000g, dilakukan persalinan dengan tindakan (vacuum/forcep).
12. Pola Kegiatan Sehari-hari
Nutrisi       
 : saat hamil ibu banyak makan dan minum yang manis.Eliminasi      : BAB/BAK terganggu karena ibu kesulitan berjalan
Aktifitas     :Ibu kesulitan bangun dari tempat tidur,kesulitan     berjalan.

B. DATA OBYEKTIF
1.     Pemeriksaan Umum
Keadaan umum : kesakitan saat berjalan
Kesadaran
       : Composmentis
TTV            
    : DBN
2.    Pemeriksaan Fisik
muka 
 : tidak pucat
Mata 
 : sclera putih,conjungtiva merah muda
Gilut 
 : Bersih,bibir lembab,tidak pucat.
Leher
 : tidak ada pembesaran kelenjar limfe, tidak ada pembengkakan kelenjar tiroid, tidak ada pembendungan vena jugularis.
Dada 
 : c/p DBN
Payudara: simetris, terdapat hiperpigmentasi areola dan papilla mamae, papilla mamae ki/ka menonjol, ASI sudah keluar.
Abdomen: TFU 2 jari bawah pusat, UC baik,tidak ada diastasis rekti,bising usus DBN
genetalia :terdapat lokhea rubra,nyeri tekan pada simfisis,teraba pemisahan yang lebar pada ujung-ujung tulang pubis.

ekstrimitas :bawah:simetris,tidak dapat memfleksikan pahanya,berjalan seperti bebek,lebih nyaman bila berjalan mundur.
3.    pemeriksaan penunjang
             
 -

II.IDENTIFIKASI DIAGNOSA
     DX : ibu P….. post partum hari ke….. dengan nyeri pelvik
     DS : Ibu mengeluh nyeri saat berjalan,paha tidak dapat ditekuk dan tidak mampu bangun dari tempat tidur.
     DO : Nyeri tekan pada daerah supra simfisis,teraba pemisahan yang lebar pada ujung-ujung tulang pubis.Kaki eversi,paha terasa nyeri jika fleksi.

III.IDENTIFIKASI MASALAH POTENSIAL
v  Syok neurogenik
v  Edema Arthritis atau osteomyelitis

IV.IDENTIFIKASI KEBUTUHAN SEGERA
v  Tirah baring atau bedrest (menghindari pergerakan tulang panggul)
v  Rujuk

V.INTERVENSI
1.     Jelaskan pada ibu dan keluarga tentang keadaannya
R/Ibu mengerti kondisinya dan lebih kooperatif
2.    Anjurkan ibu untuk tirah baring selama ±1 minggu pada tempat tidur yang keras dan tidak boleh duduk selama 1minggu.
R/Proses pemulihan kondisi ibu
3.    Anjurkan pasien tidur dalam posisi semi fowler atau jantung lebih tinggi dari bokong
R/Lokhea tidak naik ke atas
4.    Berikan motivasi pada keluarga untuk merawat dan membantu ibu dengan segala kebutuhannya
R/Ibu merasa tenang dan nyaman
5.    Berikan kompres dingin sampai tanda peradangan hilang kemudian dilanjutkan dengan kompres hangat
R/ Kompres dingin untuk mengurangi nyeri,kompres hangat untuk memperlancar peredaran darah
6.    Anjurkan ibu menyusui dalam posisi miring
R/Tidur dalam posisi miring mengurangi pergerakan dan rasa nyeri
7.    Pasang bebat pada pantat
R/Menghindari pergerakan atau pergeseran tulang simfisis
8.    Ganti pembalut setiap kali penuh
R/Menghindari infeksi dan agar ibu lebih nyaman
9.    Kolaborasi dengan dokter SpOG untuk pemeriksaan foto pelvis
R/menegakkan diagnosa pasti

VI.IMPLEMENTASI
     Melaksanakan intervensi

VII.EVALUASI
Di BPS
Tanggal.....  
 Jam.....
S : 
 Ibu mengeluh nyeri saat berjalan,paha tidak dapat ditekuk dan tidak mampu bangun dari tempat tidur.Ibu mengatakan setuju untuk melakukan pemeriksaan foto pelvis.
O : Nyeri tekan pada daerah supra simfisis,teraba pemisahan yang lebar pada ujung-ujung tulang pubis.Kaki eversi,paha terasa nyeri jika fleksi.
A : ibu P….. post partum hari ke….. dengan nyeri pelvik
P : Kolaborasi dengan Dokter SpOG untuk melakukan pemeriksaan foto pelvik



Di RS
Tanggal....  Jam.....
S : Ibu mengeluh nyeri saat berjalan,paha tidak dapat ditekuk dan tidak mampu bangun dari tempat tidur.
O : Nyeri tekan pada daerah supra simfisis,teraba pemisahan yang lebar pada ujung-ujung tulang pubis.Kaki eversi,paha terasa nyeri jika fleksi.
Pemeriksaan penunjang : foto pelvis menunjukkan pemisahan simfisis pubis lebih dari 1 atau 2cm.

A : ibu P….. post partum hari ke….. dengan symphysiolysis
P :
·         Anjurkan ibu untuk tirah baring selama ±1 minggu dan tidak boleh duduk selama 1minggu.
·         Memasang dower kateter loss setiap 3 hari sekali diganti
·         Kolaborasi dengan dokter SpOG untuk pemberian obat analgetika
·         Kolaborasi dokter ortopedi untuk perawatan tulang lebih lanjut(reposisi,fiksasi,mobilisasi dan rehabilitasi)

DAFTAR PUSTAKA

Bobak.2005.Keperawatan Maternitas.Jakarta:EGC
Cunningham,dkk.1995.Obstetri Williams.Jakarta:EGC
Dorland,W.A.Newman.2005.Kamus Kedokteran Dorland.Jakarta:EGC
FK UNPAD.1984.Obstetri Patologi.Bandung : Elstar Offset
Jones,Derek Llewllyn.1995.Obstetri dan Ginekologi Edisi VI. Jakarta:Hipocrates
Mander,Rosemary.2003.Nyeri Persalinan.Jakarta:EGC
Oxorn,Harry.1990.Ilmu Kebidanan Patologi dan Fisiologi Persalinan. Jakarta: Yayasan Essentia Medika
Taber,Benzion.1994.Kedaruratan Obstetri dan Ginekologi. Jakarta:EGC