BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Kehamilan merupakan hal yang
fisiologis dimana tubuh dapat beradaptasi terhadap reaksi – reaksi yang terjadi
dalam kehamilan tersebut. Selama kehamilan terdapat peningkatan hormone relaxin
dan progeseron . Peningkatan hormone itu dapat berakibat merelaksasi otot dan
ligamentum. Peningkatan hormone tersebut dapat menyebabkan peregangan pada
simfisis pubis dimana dapat menimbulkan nyeri. Nyeri akibat peregangan tulang
simfisis ini tidak boleh dianggap sepele karena nyeri ini dapat menjadi suatu
keadaan yang patologis. Nyeri ini dapat menghambat mobilisasi ibu karena
intensitas nyeri yang besar sehingga ibu kesulitan bergerak, berjalan bahkan
bangun dari tempat tidur.
Oleh karena alasan tersebut
diatas dan untuk memenuhi tugas askeb IV Patologi Kebidanan maka penulis
menyusun makalah tentang “Symphysiolysis”.
1.2 TUJUAN
·
Tujuan Umum :
Menambah dan meningkatakan pengetahuan mahasiswa kebidanan dan sumber daya calon bidan.
Menambah dan meningkatakan pengetahuan mahasiswa kebidanan dan sumber daya calon bidan.
·
Tujuan Khusus:
- Mampu mendeteksi secara dini terhadap factor penyebab terjadinya symphysiolysis
- Mampu mendeteksi secara dini terhadap tanda dan gejala symphysiolysis
- Mampu memberikan penanganan sesuai dengan standart asuhan kebidanan
- Mampu mendeteksi secara dini terhadap factor penyebab terjadinya symphysiolysis
- Mampu mendeteksi secara dini terhadap tanda dan gejala symphysiolysis
- Mampu memberikan penanganan sesuai dengan standart asuhan kebidanan
1.3 TINJAUAN PUSTAKA
1.3.1 Pengertian symphysiolysis
1.3.2 Etiologi
1.3.3 Insidensi
1.3.4 Komplikasi
1.3.5 Penatalaksanaan
1.3.6 Patofisiologi
TINJAUAN PUSTAKA
I. PENGERTIAN
Symphyolysis adalah pemisahan/putusnya
symphisis khususnya symphisis pubis. (Dorland,2005)
§ Symphyolysis adalah rupture simfisis. (FK UNPAD,1984)
§ Symphysiolysis adalah pemisahan simfisis
pubis akibat adanya relaksasi simfisis pubis pada
saat kehamilan. (Benzion,1994)
§ Diastasis Symphysis Pubis (DSP) is the name for the problem
where the pubic symphysis actually separates severely or tears. (diastasis
simfisis pubis adalah nama dari masalah dimana simfisis pubis terpisah dengan
keras atau robek) (http://www.plus-size-pregnancy.org/
pubicpain.htm)
§ KESIMPULAN:
Symphyolysis adalah pemisahan atau pemutusan simfisis pubis baik karena adanya relaksasi simfisis pada saat kehamilan maupun karena pemisahan dengan keras atau robek (trauma).
Symphyolysis adalah pemisahan atau pemutusan simfisis pubis baik karena adanya relaksasi simfisis pada saat kehamilan maupun karena pemisahan dengan keras atau robek (trauma).
II. ETIOLOGI
1. Hormonal
Hormon relaksasi kehamilan dan hormon progesteron pada kehamilan cenderung menghilangkan ligamen-ligamen dari tubuh dalam persiapan kelahiran. Hormon – hormone tersebut membuat relaksasi dan melemahkan sendi – sendi panggul sehingga persendian agak teregang, biasanya ukuran bertambah 3-4 mm. Relaksasi ligamen tersebut memungkinkan tulang panggul saling bergeser satu sama lain ketika berjalan atau bergerak. Stepherd&fry,1996 menggambarkandiameter sendi yang bertambah dari ukuran non hamil 4,9mm sampai 7,1mm. Pelebaran yang nyata ini diperbesar oleh penyerapan enzimatis tulang pubis.
Hormon relaksasi kehamilan dan hormon progesteron pada kehamilan cenderung menghilangkan ligamen-ligamen dari tubuh dalam persiapan kelahiran. Hormon – hormone tersebut membuat relaksasi dan melemahkan sendi – sendi panggul sehingga persendian agak teregang, biasanya ukuran bertambah 3-4 mm. Relaksasi ligamen tersebut memungkinkan tulang panggul saling bergeser satu sama lain ketika berjalan atau bergerak. Stepherd&fry,1996 menggambarkandiameter sendi yang bertambah dari ukuran non hamil 4,9mm sampai 7,1mm. Pelebaran yang nyata ini diperbesar oleh penyerapan enzimatis tulang pubis.
2. Diastasis
Symphisis Pubis
Diastasis didefinisikan sebagai pemisahan secara paksa kedua bagian yang normalnya bergabung (Anderson,1994). Definisi ini diterapkan pada pemisahan simfisis traumatic selama persalinan
Diastasis didefinisikan sebagai pemisahan secara paksa kedua bagian yang normalnya bergabung (Anderson,1994). Definisi ini diterapkan pada pemisahan simfisis traumatic selama persalinan
dan telah dikaitkan dengan partus presipitatus,
bersalin dengan alat yang sulit (ekstraksi forcep yang sulit),disproporsi
sefalopelvik, kelainan panggul sebelumnya atau yang telah ada, multiparitas,
persalinan yang sukar, Abduksio yang berlebihan saat melahirkan, setiap keadaan
yang dapat menimbulkan tekanan mendadak yang berlebihan simfisis pubis (sendi
simfisis), posisi litotomi juga dianggap sebagai penyebab karena sendi
kartilaginosa diregang berlebihan atau robek.
III. INSIDENSI
Insidensi bervariasi dari 1:250
hingga 1:30.000 persalinan. Peristiwa ini dapat terjadi
selama persalinan atau dalam pertengahan kedua kehamilan.
IV.TANDA DAN GEJALA
· Awal keluhan biasanya mendadak tetapi mungkin tidak
diketahui sampai saat pasien berusaha untuk berjalan.
· Pada waktu rupture pasien mengalami perasaan adanya
robekan atau mungkin terdengar suara gemeretak.
· Gerakan simfisis (misalnya pada waktu menggerakkan
tungkai ) menyebabkan nyeri yang hebat.
· Jika pasien masih dapat berjalan,ia akan berjalan
dengan badan terhuyung-huyung.
· Pada simfisis pubis terdapat nyeri tekan yang
mencolok, sering ditemukan edema dan ecchymosis.
· Acapkali teraba celah pada sendi symphisis.
· Berjalan atau penekanan menyebabkan gerakan pada sendi
yang terlepas itu.
· Nyeri sewaktu berjalan atau selama pengerahan tenaga.
· Nyeri simfisis atau nyeri tekan menjalar ke bawah pada
bagian dalam paha.
· Pasien tidak mampu bangun dari tempat tidur,karena
pergerakan menimbulkan ketidaknyamanan yang hebat.
· Apabila berusaha berjalan ibu tidak dapat memfleksikan
pahanya dan berjalan dengan ekstrimitas bawahnya eversi(berjalan seperti bebek)
V. KOMPLIKASI
Komplikasi yang mungkin
terjadi : perdarahan dan edema arthritis atau osteomyelitis.
VI.PENANGANAN
v Tirah baring biasanya
merupakan terapi yang adekuat untuk kebanyakan pasien.Pasien tidur di tempat
tidur yang keras dan sedapat mungkin menyusui dengan miring pada salah satu
sisi.Sabuk yang kuat dapat mengurangi nyeri.
v Injeksi local Novocain dapat
menolong.Pada kebanyakan kasus yang serius,pasien harus tetap di tempat tidur
dan memerlukan penggunaan penopang pelvis mirip yang digunakan untuk pengobatan
fraktur pelvis.
v Kalau rupture ringan ambulasi
dini diperbolehkan,kalau keadaannya lebih parah harus digunakan tongkat
penolong (kruk).Pasien harus membatasi dirinya dalam penggunaan tenaga.Pasien
sudah dapat dipulangkan pada satu minggu dan secara bertahap membaik dalam
empat minggu.
v Intervensi pembedahan jarang
merupakan indikasi,kalau perlu dilengkapi dengan pemasangan bone grafte,baut
dan kawat menyilang.
VI. PATOFISIOLOGI
Kehamilan Selama
proses
persalinan
Progesteron
Relaksasi
& Ekstraksi CPD Persalinan multi kelainan
Pelemahan yang
dipaksakan yg sukar paritas panggul
Ligamen
Keadaan yang menimbulkan tekanan
menda-
Tulang
panggul dak yang berlebihan pada
simphisis
pubis
Saling bergeser
Satu sama lain
(saat berjalan/
Bergerak)
Tulang rawan pada symphisis
terlalu tere-
Gang maksimal atau berlebihan
Fraktur tulang rawan
symphisis dan
Jaringan ikat pembungkus
tulang sobek
SYMPHYSIOLYSIS
Nyeri simfisis, lumbo sacral,
punggung
Gangguan pergerakan
Berjalan(seperti
bebek) Nyeri paha tidak mampu
bangun
Bagian
dalam dari Tempat tidur
ASUHAN KEBIDANAN
Pada ibu P…….. Post partum hari
ke I
Dengan Symphysiolysis
Tanggal :
Waktu :
Tempat :
I.
PENGKAJIAN
A. DATA SUBYEKTIF
1. Biodata
Ras : wanita Scandinavia dan wanita kulit hitam memiliki resiko lebih tinggi.
Ras : wanita Scandinavia dan wanita kulit hitam memiliki resiko lebih tinggi.
2. Keluhan utama
Ibu mengatakan nyeri pada daerah di atas kemaluan yang menjalar ke paha bagian dalam lebih – lebih saat berjalan atau pengerahan tenaga. Ibu tidak bisa bangun dari tempat tidur karena pergerakan menimbulkan nyeri.
Ibu mengatakan nyeri pada daerah di atas kemaluan yang menjalar ke paha bagian dalam lebih – lebih saat berjalan atau pengerahan tenaga. Ibu tidak bisa bangun dari tempat tidur karena pergerakan menimbulkan nyeri.
3. Riwayat Kesehatan Sekarang
Ibu mengatakan saat ini sedang menderita penyakit diabetes mellitus sehingga bayi yang dikandung besar.
Ibu mengatakan saat ini sedang menderita penyakit diabetes mellitus sehingga bayi yang dikandung besar.
4. Riwayat kesehatan Dahulu
Ibu mempunyai riwayat penyakit keturunan, misalnya Diabetes Melitus.
Ibu mempunyai riwayat penyakit keturunan, misalnya Diabetes Melitus.
5. Riwayat Kesehatan Keluarga
Keluarga ada yang menderita penyakit DM.
Keluarga ada yang menderita penyakit DM.
6. Riwayat
Menstruasi
7. Riwayat
Perkawinan
8. Riwayat Obstetri
Ibu mengatakan pernah melahirkan bayi besar dengan berat badan > 4000g, memiliki anak lebih dari 1, partus lama.
Ibu mengatakan pernah melahirkan bayi besar dengan berat badan > 4000g, memiliki anak lebih dari 1, partus lama.
9. Riwayat
Kehamilan
10. Riwayat KB
11. Riwayat Persalinan sekarang
Ibu mengatakan telah melahirkan anaknya yang ke ….(>1) secara spontan, pada tanggal…jam… dengan BB >4000g, dilakukan persalinan dengan tindakan (vacuum/forcep).
Ibu mengatakan telah melahirkan anaknya yang ke ….(>1) secara spontan, pada tanggal…jam… dengan BB >4000g, dilakukan persalinan dengan tindakan (vacuum/forcep).
12. Pola Kegiatan Sehari-hari
Nutrisi : saat hamil ibu banyak makan dan minum yang manis.Eliminasi : BAB/BAK terganggu karena ibu kesulitan berjalan
Nutrisi : saat hamil ibu banyak makan dan minum yang manis.Eliminasi : BAB/BAK terganggu karena ibu kesulitan berjalan
Aktifitas :Ibu kesulitan bangun dari
tempat tidur,kesulitan berjalan.
B. DATA OBYEKTIF
1. Pemeriksaan Umum
Keadaan umum : kesakitan saat berjalan
Kesadaran : Composmentis
TTV : DBN
Keadaan umum : kesakitan saat berjalan
Kesadaran : Composmentis
TTV : DBN
2. Pemeriksaan
Fisik
muka : tidak pucat
Mata : sclera putih,conjungtiva merah muda
Gilut : Bersih,bibir lembab,tidak pucat.
Leher : tidak ada pembesaran kelenjar limfe, tidak ada pembengkakan kelenjar tiroid, tidak ada pembendungan vena jugularis.
Dada : c/p DBN
Payudara: simetris, terdapat hiperpigmentasi areola dan papilla mamae, papilla mamae ki/ka menonjol, ASI sudah keluar.
Abdomen: TFU 2 jari bawah pusat, UC baik,tidak ada diastasis rekti,bising usus DBN
genetalia :terdapat lokhea rubra,nyeri tekan pada simfisis,teraba pemisahan yang lebar pada ujung-ujung tulang pubis.
muka : tidak pucat
Mata : sclera putih,conjungtiva merah muda
Gilut : Bersih,bibir lembab,tidak pucat.
Leher : tidak ada pembesaran kelenjar limfe, tidak ada pembengkakan kelenjar tiroid, tidak ada pembendungan vena jugularis.
Dada : c/p DBN
Payudara: simetris, terdapat hiperpigmentasi areola dan papilla mamae, papilla mamae ki/ka menonjol, ASI sudah keluar.
Abdomen: TFU 2 jari bawah pusat, UC baik,tidak ada diastasis rekti,bising usus DBN
genetalia :terdapat lokhea rubra,nyeri tekan pada simfisis,teraba pemisahan yang lebar pada ujung-ujung tulang pubis.
ekstrimitas :bawah:simetris,tidak dapat memfleksikan pahanya,berjalan seperti bebek,lebih nyaman bila berjalan mundur.
3. pemeriksaan
penunjang
-
-
II.IDENTIFIKASI DIAGNOSA
DX : ibu P….. post partum
hari ke….. dengan nyeri pelvik
DS : Ibu mengeluh nyeri saat
berjalan,paha tidak dapat ditekuk dan tidak mampu bangun dari tempat tidur.
DO : Nyeri tekan pada daerah
supra simfisis,teraba pemisahan yang lebar pada ujung-ujung tulang pubis.Kaki
eversi,paha terasa nyeri jika fleksi.
III.IDENTIFIKASI MASALAH POTENSIAL
v Syok neurogenik
v Edema Arthritis atau osteomyelitis
IV.IDENTIFIKASI KEBUTUHAN SEGERA
v Tirah baring atau bedrest (menghindari pergerakan
tulang panggul)
v Rujuk
V.INTERVENSI
1. Jelaskan pada
ibu dan keluarga tentang keadaannya
R/Ibu mengerti kondisinya dan lebih kooperatif
R/Ibu mengerti kondisinya dan lebih kooperatif
2. Anjurkan ibu
untuk tirah baring selama ±1 minggu pada tempat tidur yang keras dan tidak
boleh duduk selama 1minggu.
R/Proses pemulihan kondisi ibu
R/Proses pemulihan kondisi ibu
3. Anjurkan pasien
tidur dalam posisi semi fowler atau jantung lebih tinggi dari bokong
R/Lokhea tidak naik ke atas
R/Lokhea tidak naik ke atas
4. Berikan motivasi pada keluarga untuk merawat dan
membantu ibu dengan segala kebutuhannya
R/Ibu merasa tenang dan nyaman
R/Ibu merasa tenang dan nyaman
5. Berikan kompres dingin sampai tanda peradangan hilang
kemudian dilanjutkan dengan kompres hangat
R/ Kompres dingin untuk mengurangi nyeri,kompres hangat untuk memperlancar peredaran darah
R/ Kompres dingin untuk mengurangi nyeri,kompres hangat untuk memperlancar peredaran darah
6. Anjurkan ibu menyusui dalam posisi miring
R/Tidur dalam posisi miring mengurangi pergerakan dan rasa nyeri
R/Tidur dalam posisi miring mengurangi pergerakan dan rasa nyeri
7. Pasang bebat pada pantat
R/Menghindari pergerakan atau pergeseran tulang simfisis
R/Menghindari pergerakan atau pergeseran tulang simfisis
8. Ganti pembalut setiap kali penuh
R/Menghindari infeksi dan agar ibu lebih nyaman
R/Menghindari infeksi dan agar ibu lebih nyaman
9. Kolaborasi dengan dokter SpOG untuk pemeriksaan foto
pelvis
R/menegakkan
diagnosa pasti
VI.IMPLEMENTASI
Melaksanakan intervensi
VII.EVALUASI
Di BPS
Tanggal..... Jam.....
S : Ibu mengeluh nyeri saat berjalan,paha tidak dapat ditekuk dan tidak mampu bangun dari tempat tidur.Ibu mengatakan setuju untuk melakukan pemeriksaan foto pelvis.
O : Nyeri tekan pada daerah supra simfisis,teraba pemisahan yang lebar pada ujung-ujung tulang pubis.Kaki eversi,paha terasa nyeri jika fleksi.
Tanggal..... Jam.....
S : Ibu mengeluh nyeri saat berjalan,paha tidak dapat ditekuk dan tidak mampu bangun dari tempat tidur.Ibu mengatakan setuju untuk melakukan pemeriksaan foto pelvis.
O : Nyeri tekan pada daerah supra simfisis,teraba pemisahan yang lebar pada ujung-ujung tulang pubis.Kaki eversi,paha terasa nyeri jika fleksi.
A : ibu P….. post partum hari ke….. dengan nyeri
pelvik
P : Kolaborasi dengan Dokter SpOG untuk melakukan
pemeriksaan foto pelvik
Di RS
Tanggal.... Jam.....
S : Ibu mengeluh nyeri saat berjalan,paha tidak dapat
ditekuk dan tidak mampu bangun dari tempat tidur.
O : Nyeri tekan pada daerah supra simfisis,teraba
pemisahan yang lebar pada ujung-ujung tulang pubis.Kaki eversi,paha terasa
nyeri jika fleksi.
Pemeriksaan penunjang : foto pelvis menunjukkan
pemisahan simfisis pubis lebih dari 1 atau 2cm.
A : ibu P….. post partum hari ke….. dengan
symphysiolysis
P :
· Anjurkan ibu untuk tirah baring selama ±1 minggu dan
tidak boleh duduk selama 1minggu.
· Memasang dower kateter loss setiap 3 hari sekali
diganti
· Kolaborasi dengan dokter SpOG untuk pemberian obat
analgetika
· Kolaborasi dokter ortopedi untuk perawatan tulang
lebih lanjut(reposisi,fiksasi,mobilisasi dan rehabilitasi)
DAFTAR PUSTAKA
Bobak.2005.Keperawatan Maternitas.Jakarta:EGC
Cunningham,dkk.1995.Obstetri Williams.Jakarta:EGC
Dorland,W.A.Newman.2005.Kamus Kedokteran Dorland.Jakarta:EGC
FK UNPAD.1984.Obstetri Patologi.Bandung : Elstar Offset
Jones,Derek Llewllyn.1995.Obstetri dan Ginekologi Edisi VI. Jakarta:Hipocrates
Mander,Rosemary.2003.Nyeri Persalinan.Jakarta:EGC
Oxorn,Harry.1990.Ilmu Kebidanan Patologi dan Fisiologi Persalinan. Jakarta: Yayasan Essentia Medika
Taber,Benzion.1994.Kedaruratan Obstetri dan Ginekologi. Jakarta:EGC
